MENCIPTAKAN HENING, MULAI!

Diposting oleh alaikbuletin on 04.33

MENCIPTAKAN HENING, MULAI!
Oleh: Radinal Mukhtar Harahap*
Dengar seluruh
Angkasa raya memuji
Pahlawan negara
Nan gugur remaja
Di ribaan bendera
Bela nusa bangsa
Kau kukenang
Wahai bunga putra bangsa
Harga
Jasa
Kau cahaya pelita
Bagi Indonesia merdeka
Sewaktu penulis masih berada di sekolah dasar, lirik lagu tersebut adalah lirik “wajib hapal” bagi seluruh murid. Lirik ini memang wajib dihafal karena setiap senin pagi harus dinyanyikan oleh petugas upacara, yang selalu bergantian, saat acara mengheningkan cipta.

Tapi benarkan saat itu saya benar-benar mengheningkan cipta? Tidak! Sama sekali tidak. Saya tidak tahu apa itu karena kenakalan saya diwaktu kecil atau ada persoalan lain. Rahasia ini saya simpan baik-baik dalam hati saya hingga hari ini tatkala saya membuka http://yulian.firdaus.or.id/2005/11/10/hymne-pahlawan/. Saya baru sadar bahwa bukan saya saja yang tidak mengheningkan cipta, bahkan teman-teman pada situs itu mengatakan bahwa lagu itu bukan untuk mengheningkan cipta melainkan untuk menciptakan hening!
Perubahan makna dari mengheningkan cipta, dengan arti mengenang seluruh jasa pahlawan yang telah memperjuangkan kesatuan republik indonesia dibawah pimpinan Bung Tomo (yang sampai saat ini belum diangkat secara resmi menjadi Pahlawan Nasional, hanya menerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama pada tahun 1995 oleh presiden Suharto) menjadi menciptakan hening sangatlah disayangkan. Tapi itulah kenyataan dan itulah yang terjadi.
Penghargaan masyarakat indonesia akan jasa-jasa pahlawan yang telah memperjuangkan bangsa ini menjadi salah satu penyebab dari ini semua. Pimpinan perlawanan rakyat indonesia terhadap Inggris dan NICA melalui Mayor Jenderal Mansergh yang menggantikan Mallaby yaitu Bung Tomo hanya diberi penghargaan Bintang Mahaputra Utama, bukan menjadi pahlawan Nasional.
Saatnya jiwa-jiwa pahlawan yang ada pada pahlawan-pahlawan kita menjadi bahan pengheningan kita saat upacara sehingga timbul jiwa-jiwa pahlawan pada diri kita. Tidak sebaliknya, pada saat upacara kita hanya bisa menciptakan keheningan dibalik syair-syair hymne pahlawan.

Read More......

Di bawah bayang-bayang hegemoni kota pahlawan

Diposting oleh alaikbuletin on 04.29


pertama, kami poetera dan poeteri indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah indonesia.
Kedoea, kami poetera dan poeteri indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa indonesia.
ketiga. kami poetera dan poeteri indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa indonesia

Begitulah bunyi sumpah pemuda yang diambil dari rumusan hasil kongres yang diumumkan pada tanggal 28 oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop.
Selama tiga ratus lima puluh tahun, zamrud khatulistiwa terjajah. Mungkin karena pesonanya yang memukau hingga membuat iri setiap mata yang memandang serta ingin memiliki. Salah satu contohnya adalah Negeri kincir angin yang sering disebut sebagai negeri wong puteh. Obsesinya untuk memiliki Indonesia dibuktikan dengan jalan yang jauh dari perikemanusiaan. Bukannya menjaga agar senantiasa asri dan damai., mereka justru mengobok-obok negeri ini. Tetapi, sebagai bangsa yang memiliki putra-putra yang berjiwa ksatria, pertiwi tidak pantas berkecil hati. Hanya dengan modal semangat dan juga peralatan terbatas (bahkan mungkin dengan peralatan itu musuh tidak akan musnah) putra bangsa mampu memukul mundur penjajah sehingga mereka pergi dari tanah air.

Surabaya, adalah salah satu saksi perjuangan para pahlawan melawan Belanda. Karena begitu hebatnya serangan bangsa Indonesia terhadap Belanda, pada tanggal 10 Nopember maka hari itu diperingati sebagai hari pahlawan. Mereka (Belanda) memberi julukan kota Surabaya sebagai Neraka. Mungkinkah itu menjadi suatu kenyataan?
Masa penjajahan Belanda telah berakhir lama. Semangat para pahlawan Surabaya diabadikan dalam sebuah tugu PAHLAWAN. Tugu ini terletak di depan gedung Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Indonesia memang telah merdeka, tapi bukan berarti perjuangan telah berhenti sampai di sini. Masih banyak hal yang harus dibenahi. Seyogyanya arek Suroboyo mewarisi darah kepahlawan para pejuang bukan berlari menghindar dan melupakan segala jasa dan jerih payah para pahlawan. Seperti yang terjadi saat ini, generasi muda cenderung berfoya-foya dan malas membanting tulang untuk mencapai tujuannya. Dalihnya, sekarang bukan saatnya hidup susah dan menderita seperti orang-orang dahulu. Bukankah zaman telah merdeka?. Sebuah pemikiran yang sempit.
Mereka bangga atas prestasi yang diraih oleh pejuang, namun apa arti sebuah kemerdekaan bila berhenti lalu terjajah kembali hanya karena sebuah kelalaian karena perasaan bahwa hal itu telah berlalu?. Bukankah penjajah di era ini lebih ganas dan mematikan?. Sebuah bukti kongkrit, banyak generasi muda yang terjebak arus hedonisme, menghabiskan waktu senggang di berbagai tempat yang menawarkan sejuta kebohongan berkedok kemewahan. Lagi-lagi tunas bangsa tertipu.
Seandainya arek-arek Suroboyo kembali menggali makna dari peristiwa 10 Nopember dan menjadikannya sebagai cerminan, tentu sebutan kota pahlawan bukan sekedar sejarah, tapi akan menjadi sebuah kenyataan bahwa Surabaya merupakan neraka bagi mereka yang bermodal gengsi belaka, karena kota ini hanyalah untuk para pahlawan yang berjuang demi cita-citanya. Kenapa kita harus lari dan bersembunyi dibalik besarnya nama kota Pahlawan? Bukankah kita bisa membuktikan pada dunia bahwa kota ini benar-benar memiliki pahlawan-pahlawan baru yang berdedikasi tinggi untuk keutuhan Negara Indonesia? Selamat berjuang! Dan terima kasih uuntuk para pahlawan. 



Read More......

Tips Ideal Pola Sahur dan Buka Puasa

Diposting oleh alaikbuletin on 06.33

TIPS IDEAL POLA SAHUR DAN BUKA PUASA

Saat Sahur:
  1. konsumsi makanan bergizi pada saat sahur dan berbuka, walaupun dengan menu sederhana.
  2. memperbanyak mengkonsusmsi makanan berserat, agar mampu menahan rasa lapar.
  3. untuk mencegah dehidrasi dengan meperbanyak minum air pada waktu malam hari.
  4. makanan bervitamin yang penting dikonsumsi adalah makanan yang mengandung vitamin A, B, dan C. Atau cukup dengan buah berwarna kuning atau merah, sayur berwarna hijau tua, dan kacang-kacangan.

Saat Berbuka:
  1. awali dengan makanan yang hangat atau manis. Hal ini untuk menormalkan kadar gula dalam tubuh, tapi sebaiknya hindari minuman yang mengandung soda.
  2. jangan langsung minum air dingin atau es, karena selain bisa mengakibatkan kembung, juga asam lambung akan terbentuk semakin banyak.
  3. berbuka puasa hendakya dilakukan tidak terburu-buru atau bertahap, agar lambung tidak ‘kaget’, dan jangan berlebihan dalam menyantap menu berbuka karena lambung memerlukan tempat yang kosong untuk pencernaan.
  4. bagi mereka yang melebihi berat badan ideal, sebaiknya hindari makanan berkolesterol tinggi. Sebaliknya, bagi mereka yang berbadan kurus hindari banyak mengkonsumsi sayur mayur sejenis daun papaya dan daun singkong.
  5. baik setelah sahur maupun berbuka hendaknya jangan langsung tidur karena lambung memerlukan waktu untuk mencerna makanan./dyawa.


Read More......

Ramadhan: Das sein VS das solen

Diposting oleh alaikbuletin on 06.31

Ramadhan: Das sein VS das solen
Oleh: Adfar mohseen

Siapapun orangnya sebagai seorang muslim pasti sangat mengharapkan segera datangnya bulan suci Ramadhan sengan berbagai motif. Hal ini bisa dimaklumi karena bulan ramadhan hanya datang sebulan satu kali dalam satu tahun. Maka semestinya setiap muslim menyambutnya dengan antusias dan menghidupkannya dengan berbagai amal yang baik.

Tentunya sebelum bulan ramadhan tiba haruslah mempersiapkan segala sesuatunya. Baik mental, spiritual fianansial dan material. Dengan demikian dalam menjalnkan ibadah ramadhan tidak perlu lagi memikirkan hal-hal yang mungkin dapat mengurangi kekhususan dalalm beribadah.

Pada awalnya bulan ramadhan adalan waktu untuk melakukan puasa dan amal ibadah lainnya. Namun seiringa berjalnnya waktu dan bersentuhan dengan pelbagai kultur kebudayaan maka dalam menyambut bulan ramadhan berbagai cara bias kita temukan. Mulai dari yang dianjurkan langsung oleh agama hingga yang bersifat budaya local. Seperti mengirim doa untuk nenk moyang, ada yang melakukan nyekar ada yang mengunjungi tempat rekreasi dan hiburan. Untuk melepas hari bebas makan memasuki hari tahan makan.

Dibulan ramadhan ini nabi menganjurkan untuk menghidupkannya dengan berbagai amal shaleh dan ad juga yang hanya meramaikannya. Menghidupkan dan meramaikan meknanya begitu jauh. Menghidupkan berarti pelakunya ikut terlibat total jiwa-raga dalam apa yang dihidupkannya. sedangkan meramaikan pelakunya cukup asal ikut (CUMI), tidak enak kalau tidak terlibat. Hal ini bias dilihat dari berbagai contoh seperti ada yang terawih ke satu mesjid karena disana ada snacknya, ada yang lempar-lempar petasan, ada yang buka bareng-bareng dan masih bayak lainnya.

Ada sebuah fenomena yang menarik dari bangsa Indonesia seperti laporan dua hasil penelitian mahasiswa UIN Jakarta tahun 2001 pertama, hasil penelitian menyebutkan secara keagamaan bangsa Indonesia semakin saleh. Indikasinya adalah semakin banyaknya pengajian-pengajian di kantor-kantor, banyaknya musholla-musholla. Jemaah hajinya terbesar didunia, pemakai jilbab terutama di bulan ramadhan terus betambah dan menmpati prime time dan mendapat rating tertinggi.

Namun hasil penelitian yang kedua, setelah melihat dan mencermati seratus Negara di dunia tahun 2001, ternyata Indonesia menempati the most violent natian in the world (bangsa yang paling tinggi tindakan kekarasan di dunia). Dan sebagai warga negaranya sendiri kita juga bias merasakannya. Setiap hari kita mendengar ada kasus pencurian yang dibakar rame-rame sampai meninggal.

Berbeda dengan rasulullah dan para sahabatnya, kehadiran mereka menjadi solidarity maker (perekat social) dan menjadi rahmatan lilaalamiin. Untuk itu supaya bisa memperlakukan bulan Ramadan sebagaimana nabi dan para sahabatnya maka persiapan mental, financial sebagaimana disebutkan diatas haruslah matang.

Masing-masing kita dapat melihat dan merasakan bahwa yang mendominasi bulan ramadhan kini bukan lagi modus menghidupkannya tapi modus meramaikannya. Sehingga yang kita saksikan sekarang banyaknya kegiatan-kegiatan yang tidak ada sangkut pautnya dengan ramadhan, bahkan bertentangan dengan diameternya.

Idealnya agama secara cultural harus sama dengan agama secara subtansial. Minimal kultur agama tidak kehilangan subtansinya. Karena subtansi agamalah yang harus dikedepankan pada saat terjadi interaksi dengan budaya sehingga menjadi kultur personal dan social. Karena bulan ramadhan tidak butuh diramaikan tapi butuh dhidupkan. Survey menunjukan perbedaan mental personal dan social antara sebelum dan sesudah ramadhan tidak ada perubahan. Karena memang das sein tidak selamanya das solen.red

Read More......