I WANNA LOVE YOU CoZ OF HIM

Diposting oleh alaikbuletin on 04.37

I WANNA LOVE YOU CoZ OF HIM

Pagi ini terasa begitu indah. Tentunya dengan segala keajaibannya yang amat dahsyat. Tetesan embun di permukaan daun yang lambat laun membasahi tanah. Kicauan burung di ranting pepohonan terdengar merdu seakan mempersembahkan sebuah lagu kebahagiaan dan kegembiraan kepadaku yang sedang dirundung sejuta rasa bahagia. Sinar keemasan matahari merambat dengan pasti ke seluruh bagian muka bumi, bahkan sampai ke celah terkecil pun.
Memang sejak beberapa minggu yang lalu aku senantiasa memuji kebesaran ayat-ayat Allah yang ditunjukkan oleh-Nya di alam semesta ini. Untaian kalimat Hamdalah tak henti-hentinya mengalir dari kedua bibirku. Terutama hari ini. Hari di mana aku akan mengukir kenangan terindah dalam hidupku. Kedua mataku tak mampu lagi menahan butiran-butiran lembut yang membuat pipi terasa dingin. Aku sungguh terharu. Ingin rasanya aku bersujud di hadapan-Nya sepanjang hari ini.

"Ya Allah, betapa besar nikmat yang telah Kau berikan kepadaku. Sehinnga aku tak kuasa mengatakan apapun selain puji syukurku kapada-Mu. Ya Allah, berkahilah moment penting yang akan terjadi nanti. Amin."
Air mataku masih mengalir dan membanjiri pipiku ketika mobileku berdering.
"D', skrg Mas sdh smp d Rembang. Doakn Mas n klwrg spy slmt smp 7an. Sbr y. Mg nnti brjln lncr n pnuh berkah." Begitulah isi sms dari Mas Munib.

#######

Masih terbayang jelas di kedua pelupuk mataku kenangan masa-masa OSPEK empat tahun silam. OSPEK yang sangat mengesankan. Pahit manis kurasakan bersama teman-teman seangkatanku di Fakultas Syari'ah IAIN Sunan Ampel. Dari situlah aku mengenal sosok yang beberapa jam lagi akan menjadi prioritas utama dalam hidupku.
Di ujung acara penutupan OSPEK 2007, datang seorang lelaki menuju tempat dudukku. Dia adalah salah satu panitia defisi Protokoler. Sepertinya dia memang mencariku. Untuk apa aku tak tahu.
"Dek, kamu dari Pati ya?," katanya membuka pembicaraan.
"Ya, saya dari Winong, Pati. Dulu saya mondok di Kajen. Lho Kakak kok tahu, tahu dari mana?," tanyaku penasaran.
"Saya tahu dari co card yang kamu kenakan. Saya juga alumni Kajen. Nama saya Munib. Tapi saya asli Malang. Nama kamu siapa?," dia menanyakan namaku dan aku baru ingat bahwa di leherku tergantung co card yang memuat identitasku.
"Nama saya Anis sebagaimana yang Kakak lihat di co card ini. Oh ya, saya senang sekali bertemu dengan orang yang sama-sama pernah merasakan nikmatnya menuntut ilmu di kota Santri itu." Aku mengingat-ingat kembali memori kehidupanku di sana yang tidak akan pernah kulupakan.
Perbincangan kami terus mengalir hingga aku tahu banyak hal tentang dia. Dia adalah santri Pondok Pesantren Maslakul Huda. Sebuah pesantren yang sangat populer di kalangan santri Kajen itu. Bahkan mungkin tak sedikit masyarakat Indonesia yang mengenalnya. Maklum pengasuhnya adalah tokoh NU tingkat nasional, yaitu KH. Sahal Mahfudz. Seorang Kyai yang mendapatkan gelar Doktor Honoris karena karyanya yang berjudul Fiqh Sosial. Buku fenomenal itu di kalangan mahasiswa IAIN juga tidak asing.
Rata-rata kualitas intelektual santri pesantren tersebut tidak diragukan lagi. Dengan demikian bisa kuprediksikan bahwa Kak Munib merupakan orang sangat pintar di bidang ilmu agama. Apalagi selain belajar di pesantren, dia juga menyetorkan hafalan al Qur'annya kepada KH. Nafi' Abdillah, pengasuh Pondok al Qur'an terbesar di Kajen. "The great santri," bisikku dalam hati. Berbeda denganku yang hanya santri biasa yang beruntung mendapatkan beasiswa penuh dari Depag sehingga bisa merasakan bangku kuliah di IAIN ini.
Pertemuan dengan Kakak semester 5 berpenampilan ok berpostur tinggi itu berakhir ketika teman di sampingku mengajakku pulang. Kuakhiri pertemuan itu dengan salam.

#######

Pagi hari di minggu pertama bulan Desember 2007. Sejak memiliki notebook, aku sering ngenet di kampus. Selain mencari data yang berkaitan dengan perkuliahan, tak jarang aku membuka e-mailku. Fasilitas hotspot area harus kumanfaatkan dengan baik.
Mataku tercengang, hatiku berdebar, pikiranku tak percaya, tubuhku gemetar ketika membaca sebuah surat yang dikirim ke alamat e-mailku oleh orang yang tak asing lagi bagiku. Seorang yang kuanggap sebagai kakakku sendiri karena hanya dia satu-satunya alumni Kajen yang ada di kampus ini. Bukan karena pengirimnya yang membuatku kaget, tapi isi suratnya itu yang membuat diriku seakan berada di dunia mimpi.
"Anis, aku mencintaimu dan aku ingin menjadi kekasihmu………"
Sederet kalimat itu merupakan inti dari surat yang dikirim oleh Kak Munib pada jam 23.10 WIB sehari sebelum aku membuka e-mailku. Tak lama kemudian aku pulang ke pesantren tempat tinggalku yang letaknya tak jauh dari gedung Fakultas Syari'ah.


Bulan telah menampakkan sinarnya. Bintang pun tak redup meski harus bersaing dengan jutaan watt lampu yang ada di dunia ini. Angin malam terasa dingin menusuk jiwa. Hampir seluruh mahasantri yang ada di pesantren ini telah nyenyak dalam tidurnya. Mereka tengah asyik dengan mimpi-mimpi indah mereka. Mungkin hanya segelintir orang yang belum memejamkan mata. Termasuk di antaranya adalah aku.
Aku sedang memikirkan surat dari Kak Munib itu. Aku tak tahu harus berbuat apa dan bersikap bagaimana. Di tengah kebingunganmu itu, aku teringat dengan ucapan Nailin, teman karibku yang menjadi tempat curhatku untuk masalah ini.
"Sebaiknya kamu bertemu dengan Kak Munib dan membicarakan permasalahan itu face to face supaya semuanya menjadi clear." Begitu solusi yang ditawarkan oleh Nailin tadi siang yang menurutku tak ada salahnya jika aku mencobanya.
Beberapa saat kemudian kuambil handphoneku. Kuketik beberapa kata dan kukirim ke nomor Hpnya. Aku ingin bertemu dengannya besok. Moga ini solusi yang terbaik.
"Allahumma yassir lana umurana, umurad dunya wal akhirah………" Dengan membaca Basmalah dan mengharap ridha Allah, aku mulai memejamkan mata.

#######

"Assalamu'alaikum…." Itulah kalimat pertama yang diucapkan oleh Kak Munib ketika melihatku dan Nailin di taman kampus yang lebih dulu dating daripada dia. Aku mengajak Nailin dalam pertemuan ini supaya tidak terjadi fitnah. Bukankah apabila ada dua orang berlainan jenis berkhalwat, maka pihak ketiganya adalah syaitan.
"Wa'alaikumsalam…." Aku dan Nailin menjawab salamnya hampir berbarengan.
"Bagaimana kabar kalian? Mudah-mudahan selalu mendapat petunjuk-Nya," dia berbasa basi dengan menanyakan kabar.
"Alhamdulillah, aku dan Nailin dalam keadaan sehat sebagaimana yang kamu lihat saat ini. Kak, saya ingin membicarakan surat kamu kemarin lusa." Aku berusaha bicara sedatar dan setenang mungkin. Padahal jantung ini terasa berdegup kencang.
"Oh ya, silakan. Saya akan menerima apapun keputusanmu"
"Kak, sebelumnya bolehkah saya bertanya sesuatu?," suaraku terdengar makin kecil dan mataku sama sekali tak berani memandang wajahnya. Aku tak tahu kenapa ini bisa terjadi. Padahal biasanya aku berani menatap matanya. Tapi kali ini tidak.
"Bertanya apa, Anis?," dia bertanya penuh penasaran.
"Sebenarnya hal apa yang menyebabkan kamu mencintaiku? Tolong jawab dengan jujur karena ini akan menentukan perasaanku kepadamu."
"Cinta yang beralasan tak akan bertahan lama. Cinta karena kecantikan akan pudar seiring pudarnya kecantikan itu. Cinta karena harta akan lenyap bersamaan dengan lenyapnya harta itu. Begitu juga dengan cinta yang berpijak pada alasan-alasan yang lainnya. Saya mencintaimu bukan karena suatu alasan apapun. Dengan demikian saya berharap cinta yang saya rasakan ini bisa bertahan sampai kapanpun." Sebuah jawaban yang sarat akan makna. Itulah jawaban yang aku tunggu untuk mengetahui alasan dia mencintaiku. Aku ingin menangis mendengar jawabannya seperti itu.
"Sekarang giliran saya yang bertanya. Apakah kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku? Apakah kamu bersedia menjadi kekasihku?," dia bertanya serius.
"Sebenarnya hati ini sulit memungkiri bahwa saya juga menaruh simpati kepadamu. Tapi maaf saya tidak bisa menjadi kekasih atau pacarmu. Saya tidak mau menjalin hubungan cinta dengan siapapun sebelum adanya ikatan yang suci. Saya mengharapkan cinta yang dibangun di atas pondasi yang berlabelkan halal. Supaya saya bisa mencintai dengan sepenuh jiwa dan raga.. Jujur saya tak ingin seperti kebanyakan orang yang menjadikan pacaran sebagai ajang untuk bersenang-senang belaka," aku berkata dengan penuh kehati-hatian agar tidak menyinggung perasaannya.
Aku segera mengakhiri pertemuan itu karena sebentar lagi ada jam kuliah. Kesimpulan dari perbincangan kami yang panjang lebar itu adalah kami sepakat untuk tidak menjalin hubuingan yang disebut dengan pacaran. Kami harus menunda perasaan cinta ini. Entah sampai kapan, kami belum tahu. Kami saling mendoakan semoga Allah menciptakan yang terbaik untuk kami. Meskipun tidak pacaran, kami tetap berteman. Kami harus melupakan peristiwa itu agar tidak mengganggu konsentrasi kuliah kami.

#######

Empat tahun sudah peristiwa itu berlalu. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menahan rasa cinta. Dalam jangka waktu selama itu aku harus berusaha semaksimal mungkin supaya cintaku terjaga dengan baik. Dan inilah hari kemenangan. Hari di mana sebuah prosesi sakral akan dilangsungkan. Sebuah ikatan yang suci akan kujalin dengannya. Ya, hari ini aku akan menikah dengannya. Orang yang aku selalu berharap bisa mencintainya hanya karena Allah. Supaya cinta ini tidak membutakan hati kami. Aku berjanji akan menaati seluruh perintahnya sepanjang tidak melanggar syara'. Aku akan berusaha menjadi a good wife and a good mother.
"The most important…… I wanna love you cz of Him," kalimat utama yang kubisikkan ke telinganya sesaat setelah akad nikah berlangsung.
"So do I, semoga cinta yang kita rasakan ini semata karena Allah," jawabnya sambil menggenggam tanganku erat.

Read More......

Mencapai Syurga-MU

Diposting oleh alaikbuletin on 06.25

“De’ a’ minta maaf baru berani bilang sekarang. Aa’ itu termasuk anak dari keluarga yang brokenhome. Sejak umur 4 tahun a’ dah tau kekerasan dalam rumah tangga. Udsah ngeliat sendiri sikap ayah ke mama seperti apa. Makanya itu selepas SMA a’ pergi dari rumah, pindah ke Bandung.” Aku menghela nafas sejenak, menguatkan hati. Aku harus berani jujur pada istriku. Sudah sejak seminggu yang lalu aku mmikirkan hal ini, aku ingin jujur padanya sebelum kita melangkah terlalu jauh. Istriku diam saja mendengarkan suaraku dari horn telpon rumah.
“De’…A’ dulu suka minum minuman keras. Jarang pulang ke rumah, cari makan di jalan. A’ bias kuliah aja karena beasiswa…kalo g gitu mungkin a’ g bisa nerusin kuliah. A’ Cuma pengen ade’ tau aja. Makanya itu a’ cenderung pendiam, minder, g banyak ngom…..tut..tut..tut..” telpon terputus.
Istriku menutup telpon rumah. Ya Allah, salahkah aku ingin jujur pada istriku tentang masa laluku? Aku hanya ingin dia tahu siapa aku sebenarnya. Aku hanya ingin jujur dan memulai lagi semuanya dari awal. Dewi Wulandari, perempuan berjilbab asal surabaya yang aku kenal 4 tahun lalu lewat internet, perempuan yang aku nikahi sebulan yang lalu, perempuan yang berperan sangat besar dalam perubahan hidupku. Aku menghela nafas, mengingat kembali kejadian tadi pagi saat kami sedang makan sahur.

“A’? aa’ kenapa? Kok lemes begitu?” ujarnya sambil menghidangkan makan sahur. Aku tersenyum
“Gak apa-apa sayang. Mungkin a’ kurang enak badan aja.”
“Aa’ sakit y?” suaranya khawatir. Ia mendekatiku dan duduk di sampingku. Mengamati wajahku dengan perasaan khawatir.
“Gak apa-apa sayang. A’ gak apa-apa kok. Nanti juga baikan.”
“Istirahat aja ya a’. Nantia de’ telpon kantornya kasih kabar kalo a’ sakit”
“Gak usah De’. A’ masih sehat kok.”
“Tapi a’...”
“Gak apa-apa De’...Gak usah khawatir ya..” aku tersenyum padanya.
Aku mengangkat horn telpon dan menghubunginya lagi. Lama sekali tidak ada yang mengangkat. Aku coba sekali kagi, masih sama. Tak ada respon. Apa dia marah mendengar kejujuranku?. Aku coba sekali lagi, masih tak ada yang mengangkat. Akhirnya aku mengambil handphone dan mengiriminya SMS.
“De’ knp telpon a’ g diangkt?Ade’ nysel y nkah ma a’?A’ mnt maf klo ade’ g brkenan. Tpi a’ cma mw jjur aj.A’ mnt maaf y...”
Ya Allah, aku minta petunjukmu. Aku memejamkan mata, menghela nafas dalam. “Ya Allah, inikah tantangan yang harus aku jalani untuk menggapai Ridlo-Mu di bulan suci ini”. Aku masih menggenggam handphone. Tidak ada balasan. Allah istriku benar-benar marah padaku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Aku pasrah tapi aku lega sudah bisa jujur padanya. “Ya Allah kuatkan aku..!”
“De’ kok sms a’ g dbls? Ade’ mrh y ma a’?A’ mmag bkn pak ustadz. A’ g bs jd sprt itu.A’ mnt maaf, ade’ mw g maafin aa’?dbls y De’...”
Sekali lagi aku mengirim sms pada istriku. Masih belum ada jawaban. Huffh....
*******
Aku berhenti di depan pintu rumah., urung mengetuk pintu. Astaghfirullah...aku harus bersikap bagaimana?. Aku mengangkat tangan mengetuk pintu rumah dan mengucap salam.
“Assalamualaikum...De’..”. aku mendengar sura langkah kaki istriku. Hatiku bergetar. Ia membuka pintu diam menunduk tidak menatapku sama sekali.
“Assalamualaikum....”. aku mengucap salam lagi.
“Waalaikum salam...”jawabnya lirih, nyaris tak terdengar. Aku menatapnya sejenak, berharap ia akan berkata lebih. Tapi ia berlalu tanpa mengatakan apa-apa.
********
Hingga sore, menjelang berbuka puasa istriku masih saja diam, akupun diam. Tidak ada satupun kata terlontar dari bibir kami berdua. Dewi menyiapkan menu berbuka puasa di meja makan. Kami berbuka puasa dalam diam.
“Apa harus aku yang mulai? Aku kan sudah pernah bilang kalau aku pendiam, gak bisa mengawali perbincangan...ayo ngomong De’. Bantu aa’ De’...” batinku. Ia masih bertahan dalam diamnya.
“Ade’ pamit ke masjid dulu, sholat tarawih” hanya itu satu-satunya kata yang ia ucapkan. Aku masih terdiam membiarkannya berlalu begitu saja.
“Ya Allah, kenapa harus seperti ini? Mampukah aku menjalani keadaan ini Ya Allah? Kami baru saja memulai perjalanan ini. Belum setapak kami melangkah menjalani kehidupan dalam bahtera suci ini. Ya Allah mungkinkah perjalanan ini akan akan berhenti smpai disini? Ya Allah tujukkan kepadaku yang terbaik.
********
Sehari, dua hari, kami masih berthan dalam diam. Aku tak tahu harus memulai dari mana. Tapi mau tidak mau, memang aku yang harus memulai.
Selepas tarawih kulihat istriku sedang santai menonton siaran berita Top 9 (Nine) News di MetroTV. Ia memang perempuan cerdas, pemikir, kritis, peduli lingkungan sekitar dan selalu ingin tahu. Aku mendekatinya....
“De’...” kusentuh pundaknya. Ia agak tersentak, menoleh lalu menggeser duduknya. Memberiku tempat untuk duduk.
“Aa’ mau ngomong...” ujarku. Ia menolehku sebentar.
“Ngomong aja, ade’ dengerin..” ia mematikan televisi.
“Aa’...mmm..A’ dulu....mmm....” Ya Allah sesulit inikah aku mengungkapkan semua ini dihadapannya? Kenapa tak semudah ketika aku mengatakan hal ini di telpon tiga hari yang lalu.
“De’....” ia menoleh lagi sebentar. “mm...seperti yang a’ bilang kemaren, A’ ini dulunya bukan orang baik. Kata orang sih aa’ itu gak bener. Suka mabuk, bergaul sama preman, jarang pulang ke rumah, cari makan di jalan.” Aku memulai percakapan. Istriku masih diam mendengarkan. Aku tidak menangkap ekspresinya.
“A’ mau bilang, mau jujur... sebelum ada ade’ a’ sering gonta ganti cewek, kalau dihitung mungkin lebih dari 20 cewek pernah jadi pacar aa’. Hari ini putus, besok sudah dapat lagi yang baru, begitu.” Akui diam sejenak. Istriku menunduk, menghela nafas.
“Begitu seterusnya selama 4 tahun. Sejak a’ lulus SMA sampai selesai kuliah a’ seperti itu. Sampai suatu hari aa’ ketemu akhwat, berjilbab lebar, dia minta aa’ untuk berhenti minum. Dia sering main ke rumah, padahal rumah berantakan banget. Dia gak risih liat keadaan a’ kayak gini.”
“Sejak itu a’ sering bergaul sama mereka. A’ bilang sama mereka a’ mau baik, a’ mau berubah tapi a’ malu. Mereka bilang kenapa Yuda harus malu sama temen-temen Yuda, tapi Yuda gak malu sama Allah.......”
Istriku mengusap matanya, mungkin ia menangis. Aku menatapnya sebentar kemudian melanjutkan ceritaku tentang perubahan yang terjadi dalam hidupku.
“.............Akhirnya sedikit demi sedikit aa’ bisa berubah, belajar islam sama mereka. Menata lagi hidup aa’ dari awal, mencoba membenahi kesalahan-kesalahan a’ yang banyak banget”. Istriku masih bergeming.
“De’ mungkin Cuma itu aja yang mau aa’ omongin sama ade’. Kalo ade’ belum bisa nerima gak apa-apa. Terserah ade, maunya ade’ gimana a’ terima. Sekarang ade’ bebas memilih. Mungkin ade’ mau a’ mence....”. istriku sontak menoleh,meletakkan ujung jari telunjuknya dibibirku.
“Aa’ denger.... jangan pernah ucapkan kata-kata itu. Ade’ takut di bensi Allah”. Aku menatapnya dalam. “Ade menikah dengan Yuda yang sekarang, bukan Yuda yang dulu. Selama aa’ terus mau berusaha untuk lebih baik lagi, semua itu jadi gak penting buat ade’.”
Ada air menetes dari kedua pelupuk matanya.
“Ade’ sayang a’ tulus. Kita sama-sama berusaha untuk lebih baik ya. Ini bulan suci, gak baik putus asa dan pesimis. Kita benahi semuanya bersama-sama ya”. Dewi tersenyum, getir.
“A’ minta maaf baru bisa bilang sekarang. Aa’ minta maaf juga gak bisa jadi pak ustadz seperti yang ade’ harapkan. Ade’ pengen banget kan punya pesantren?! Tapi a’ belum bisa penuhi itu. A’ masih belum siap... A’ bukan siapa-siapa,gak punya apa-apa. A’ Cuma punya hati yang mencintai ade’ dengan tulus. A’ g mau ade kecewa.....”
“Sst... ade’ gak cari suami pak ustadz. Soal pesantren nanti bisa kita bicarakan lagi kapan-kapan. Kalau Allah menghendaki, insyaAllah nanti kita bisa mendirikan dan mengelola pesantren. Gak usah ngomong itu lagi ya a’. Ade’ ikhlas...”
“Tapi De’, a’ masih belum bisa lebih baik dari sekarang”
“gak apa-apa, nanti ade’ bantu”. Istriku tersenyum dan merebahkan kepalanya di pundakku. Perlahan aku merangkulnya.
“Terima kasih ya sayang....” Aku mencium keningnya dan memeluknya erat, erat sekali. Ia tersenyum manis sekali.
Perempuan ini, perempuan istimewa yang kau kirim untukku Ya Allah. Jangan pernah pisahkan aku darinya. Aku ingin menggapai ridlo-Mu bersamanya. Semoga bulan suci ini menjadi pengantar kami untuk menjadi insan yang mulia. Menjadi sejoli yang akan mencapai syurga-Mu dengan cinta. Amien......

Read More......