Tips Ideal Pola Sahur dan Buka Puasa

Diposting oleh alaikbuletin on 06.33

TIPS IDEAL POLA SAHUR DAN BUKA PUASA

Saat Sahur:
  1. konsumsi makanan bergizi pada saat sahur dan berbuka, walaupun dengan menu sederhana.
  2. memperbanyak mengkonsusmsi makanan berserat, agar mampu menahan rasa lapar.
  3. untuk mencegah dehidrasi dengan meperbanyak minum air pada waktu malam hari.
  4. makanan bervitamin yang penting dikonsumsi adalah makanan yang mengandung vitamin A, B, dan C. Atau cukup dengan buah berwarna kuning atau merah, sayur berwarna hijau tua, dan kacang-kacangan.

Saat Berbuka:
  1. awali dengan makanan yang hangat atau manis. Hal ini untuk menormalkan kadar gula dalam tubuh, tapi sebaiknya hindari minuman yang mengandung soda.
  2. jangan langsung minum air dingin atau es, karena selain bisa mengakibatkan kembung, juga asam lambung akan terbentuk semakin banyak.
  3. berbuka puasa hendakya dilakukan tidak terburu-buru atau bertahap, agar lambung tidak ‘kaget’, dan jangan berlebihan dalam menyantap menu berbuka karena lambung memerlukan tempat yang kosong untuk pencernaan.
  4. bagi mereka yang melebihi berat badan ideal, sebaiknya hindari makanan berkolesterol tinggi. Sebaliknya, bagi mereka yang berbadan kurus hindari banyak mengkonsumsi sayur mayur sejenis daun papaya dan daun singkong.
  5. baik setelah sahur maupun berbuka hendaknya jangan langsung tidur karena lambung memerlukan waktu untuk mencerna makanan./dyawa.


Read More......

Ramadhan: Das sein VS das solen

Diposting oleh alaikbuletin on 06.31

Ramadhan: Das sein VS das solen
Oleh: Adfar mohseen

Siapapun orangnya sebagai seorang muslim pasti sangat mengharapkan segera datangnya bulan suci Ramadhan sengan berbagai motif. Hal ini bisa dimaklumi karena bulan ramadhan hanya datang sebulan satu kali dalam satu tahun. Maka semestinya setiap muslim menyambutnya dengan antusias dan menghidupkannya dengan berbagai amal yang baik.

Tentunya sebelum bulan ramadhan tiba haruslah mempersiapkan segala sesuatunya. Baik mental, spiritual fianansial dan material. Dengan demikian dalam menjalnkan ibadah ramadhan tidak perlu lagi memikirkan hal-hal yang mungkin dapat mengurangi kekhususan dalalm beribadah.

Pada awalnya bulan ramadhan adalan waktu untuk melakukan puasa dan amal ibadah lainnya. Namun seiringa berjalnnya waktu dan bersentuhan dengan pelbagai kultur kebudayaan maka dalam menyambut bulan ramadhan berbagai cara bias kita temukan. Mulai dari yang dianjurkan langsung oleh agama hingga yang bersifat budaya local. Seperti mengirim doa untuk nenk moyang, ada yang melakukan nyekar ada yang mengunjungi tempat rekreasi dan hiburan. Untuk melepas hari bebas makan memasuki hari tahan makan.

Dibulan ramadhan ini nabi menganjurkan untuk menghidupkannya dengan berbagai amal shaleh dan ad juga yang hanya meramaikannya. Menghidupkan dan meramaikan meknanya begitu jauh. Menghidupkan berarti pelakunya ikut terlibat total jiwa-raga dalam apa yang dihidupkannya. sedangkan meramaikan pelakunya cukup asal ikut (CUMI), tidak enak kalau tidak terlibat. Hal ini bias dilihat dari berbagai contoh seperti ada yang terawih ke satu mesjid karena disana ada snacknya, ada yang lempar-lempar petasan, ada yang buka bareng-bareng dan masih bayak lainnya.

Ada sebuah fenomena yang menarik dari bangsa Indonesia seperti laporan dua hasil penelitian mahasiswa UIN Jakarta tahun 2001 pertama, hasil penelitian menyebutkan secara keagamaan bangsa Indonesia semakin saleh. Indikasinya adalah semakin banyaknya pengajian-pengajian di kantor-kantor, banyaknya musholla-musholla. Jemaah hajinya terbesar didunia, pemakai jilbab terutama di bulan ramadhan terus betambah dan menmpati prime time dan mendapat rating tertinggi.

Namun hasil penelitian yang kedua, setelah melihat dan mencermati seratus Negara di dunia tahun 2001, ternyata Indonesia menempati the most violent natian in the world (bangsa yang paling tinggi tindakan kekarasan di dunia). Dan sebagai warga negaranya sendiri kita juga bias merasakannya. Setiap hari kita mendengar ada kasus pencurian yang dibakar rame-rame sampai meninggal.

Berbeda dengan rasulullah dan para sahabatnya, kehadiran mereka menjadi solidarity maker (perekat social) dan menjadi rahmatan lilaalamiin. Untuk itu supaya bisa memperlakukan bulan Ramadan sebagaimana nabi dan para sahabatnya maka persiapan mental, financial sebagaimana disebutkan diatas haruslah matang.

Masing-masing kita dapat melihat dan merasakan bahwa yang mendominasi bulan ramadhan kini bukan lagi modus menghidupkannya tapi modus meramaikannya. Sehingga yang kita saksikan sekarang banyaknya kegiatan-kegiatan yang tidak ada sangkut pautnya dengan ramadhan, bahkan bertentangan dengan diameternya.

Idealnya agama secara cultural harus sama dengan agama secara subtansial. Minimal kultur agama tidak kehilangan subtansinya. Karena subtansi agamalah yang harus dikedepankan pada saat terjadi interaksi dengan budaya sehingga menjadi kultur personal dan social. Karena bulan ramadhan tidak butuh diramaikan tapi butuh dhidupkan. Survey menunjukan perbedaan mental personal dan social antara sebelum dan sesudah ramadhan tidak ada perubahan. Karena memang das sein tidak selamanya das solen.red

Read More......

Ramalan Primbon Jawa

Diposting oleh alaikbuletin on 06.28

Ramalan Primbon Jawa
Oleh: Ahmad Sahal Fauzi

Indonesia adalah negara yang kaya akan nilai-nilai budaya, tak kurang 500 bahasa dengan dialek yang berbeda-beda dimiliki oleh Indonesia, setiap suku memeliki budaya dan adat sendiri yang menjadi sebuah ciri khas yang unik dan menarik.
Jawa adalah pulau dengan tingkat kepadatan penduduk yang paling tinggi di Indonesia, dan memiliki keunikan budaya yang tak sedikit membuat banyak orang tertarik akannya, dari masa ke masa ratusan peneliti dari manca Negara telah banyak berdatangan untuk melakukan research terhadap keunikan yang dimiliki oleh suku jawa, salah satunya mengenai ramalan jawa yang biasa dikenal dengan primbon.

Mungkin kita sering menyaksikan dan melihat ramalan zodiac berdasarkan shio yang sering diumumkan oleh berbagai media masa setiap harinya, mulai dari ramalan asmara, keuangan, karir, dan lain sebagainya. namun juga primbon jawa tidak kalah canggihnya dibandingkan dengan ramalan zodiac, bahkan ramalan ini bisa dikatakan lebih lengkap. Primbon adalah pengetahuan Jawa yang berusia ratusan tahun, dan kini masih lazim digunakan dalam masyarakat Jawa. Primbon merupakan sistem perhitungan atau ramalan berkaitan dengan aktivitas orang Jawa. Tidak seperti ramalan zodiac, yang biasanya hanya meramalkan masalah pribadi sesorang pada hari tertentu, Primbon sedikitnya membicarakan tentang perhitungan berkaitan dengan baik buruknya waktu kegiatan (upacara perkawinan, mendirikan rumah, menempati rumah, dan sebagainya), ramalan watak manusia dan hewan berdasarkan ciri-ciri fisiknya, ramalan yang bersifat gaib (misal, mimpi dan kedutan), serta perhitungan mengenai tempat tinggal. Sekarang kita tidak lagi susah-susah mencari orang yang benar-benar ahli dalam masalah ramalan primbon, karena telah banyak situs yang menyediakan aplikasi untuk ramalan ini, misalnya pimbon.com dan lain sebagainya.
Menurut ramalan primbon yang meramal watak manusia misalnya, jika anda dilahirkan pada tanggal satu berarti Anda mempunyai kemauan yang keras, mandiri dan percaya diri. Orang lain mungkin berkata Anda "terlalu banyak berpikir" karena Anda lebih suka berencana namun tidak benar-benar menjalankannya. Anda cenderung mendiagnosa apa yang salah daripada membenahinya. Anda memiliki pemikiran yang bagus dan suka berunding. Praktis dan idealis, Anda menyukai hal-hal yang diukur oleh otak daripada hati Anda. Akibatnya, walaupun Anda mampu memberikan kasih sayang, Anda tidak menunjukkannya terang-terangan. Di balik kemandirian Anda, Anda adalah seseorang yang sangat sensitif dan membutuhkan dorongan dan feedback (umpan balik) yang positif. Anda juga memiliki kekuatan besar yang terpendam.
Dalam hal ini juga tak ada yang paham betul bagaimana diperoleh kesimpulan semacam di atas. Dalam hal percaya atau tidaknya dengan ramalan semacam di atas, itu semua kembali kepada diri kita masing-masing, yang jelas dalam islam urusan jodoh dan hal yang berkaitan dengan masa yang akan datang itu semua adalah mutlak menjadi urusan Allah SWT.
Di era yang serba modern, kepercayaan terhadap primbon tersebut sedikit banyak telah ditinggalkan oleh sebagian masyarakat jawa sendiri, terutama bagi mereka kaum muda dan mereka yang berpendidikan tinggi. Karena menurut mereka hal ini bukanlah hal rasional dan sudah sepatutnya ditinggalkan, mengingat sudah semakin majunya peradaban manusia.
Sekali lagi hal semacam tersebut adalah murni hasil produk budaya, yang mana kita sebagai orang yang berada di dalamnya harus bisa bersifat seobyektif mungkin, dan tidak hanya melihat sesuatu dari satu sudut pandang saja. (wallahu’alam)

Read More......

Ibadah Ramadhan; Puasa Antara Ibadah Personal dan Kebjikan Sosial

Diposting oleh alaikbuletin on 06.27

Ibadah Ramadhan; Puasa Antara Ibadah Personal dan Kebjikan Sosial
By; Ghin Hisma s

Mulai 1 september 2008, ritual puasa satu bulan berlangsung kembali. puasa sendiri merupakan ritual paling tua sepanjang sejarah keyakinan keagamaan manusia. Allah swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Selama sebulan penuh, kaum Muslim baik itu rakyat ataupun pejabat, kaum papa ataupun penguasa siapapun dan apapun status sosial atau jabatannya bersama-sama menunaikan ibadah puasa.

Secara syar'i, puasa (as-Shiyam) adalah perbuatan menahan diri dari lapar dan dahaga serta segala sesuatu yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam Matahari. Oleh karenanya, jangan heran jika atmosfer bulan yang oleh baginda dalam khutbahnya menyebutkan bahwa Ramadhan adalah bulan Allah SWT yang datang membawa berkah, rahmah dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-hariya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-mlamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam-demi jamnya adalah yang paling utama ini terkesan berbeda dari bulan-bulan lainnya, hal ini ditandai dengan bertambah semangatnya kaum muslim memenuhi mesjid dan musholla, berbagai kegiatan keagamaan digelar, Al-qur'an didengungkan di mana-mana, warung makan tutup di siang hari, tampak baliho dan spanduk di berbagai sudut tempat, aksi razia PSK digelar, bahkan tayangan televisi-pun didominasi program khas serba-serbi bulan Ramadhan.
Jika ditilik lebih dalam mengenai hakikat Puasa tentu puasa tidak cukup jika dipahami hanya sebagai tanggung jawab personal, lebih-lebih jikalau hanya dimaknai melalui simbol-simbol keagamaan yang meaningless tentu tidak akan bermakna kecuali sepertia apa yang disinyalir dalam hadits Rasulullah SAW : “laisa lahu min shiamihi illa ju'i wa al-'athsi” tidaklah diperoleh dari puasanya itu, kecuali lapar dan haus (H.R Turmudzi) hal ini apa yang disebut oleh Muhammad Guntur Romli dalam koran harian kompas sebagi; pseudo-religius atau al-tadayyun al-za'if (keberagamaan yang palsu), menurutnya bahwa gejala pseudo-religius ini memiliki beberapa pola diantaranya keberagaman yang dibangun untuk tujuan “penyucian atau pengampunan diri” motif keberagamaan ini adalah demi kemashlahatan pribadi agar terbebas dari dosa. Dan Jika hakikat dari ajaran agama adalah tujuan dari syari'at (maqashid al-syari'at), yaitu terwujudnya kesalehan dan kemaslahatan sosial, maka adalah keniscayaan bahwa ibadah puasa harus pula ditransformasikan ke dalam kebajikan sosial. Secara hakiki, belum berpuasa orang yang masih melakukan korupsi,merampas hak kebendaan orang lain , membiarkan orang lain dalam kesengsaraan, memfitnah dan banyak dosa-dosa sosial lainnya. artinya tatkala seseorang berpuasa sebenarnya mempunyai tanggung jawab untuk tidak melakukan dosa sosial akan tetapi sebaliknya yaitu spirit kebajikan umum, untuk senantasa menjaga hak sesama dan turut serta merasakan penderitaan orang lain. Dengan demikian, berpuasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan refleksi teologis untuk membumikan amal shaleh dan kasih sayang dalam tindak laku. Demikian dituturkan tokoh intelektual Muda NU Zuhairi Misrawi. Walhasil, puasa yang mulanya merupakan implementasi dari rukun agama semata, kemudian menjadi sebuah laku sosial yang sangat konstruktif. Semoga kita mampu mengamalkannya. amien

Read More......